Sejarah Singkat Ka’bah, Hajar Aswad, dan Kiswah

Disini Anda akan mempelajari sejarah Ka’bah, sejarah Hajar Aswad, dan Sejarah Kiswah.

Mengapa penting belajar sejarahnya?

Agar ketika Anda melakukan ibadah haji dan umrah bisa semakin khusyuk.

Pembangunan Ka’bah

Ka'bah di Mekkah

Ka’bah atau Baitullah al-Haram adalah rumah ibadah yang pertama kali dibangun sejak peradaban umat manusia dimulai.

Atas perintah Allah SWT, Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya (anak dari Ibrahim dan Siti Hajar) bernama Ismail AS.

Pembangunan Baitullah al-Haram tidak bisa dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS adalah putra seorang pemahat berhala (patung) dari kayu yang bernama Aazar.

Berhala-berhala yang dibuat sang ayah adalah berhala yang biasa digunakan sebagai tuhan sembahan masyarakat Negeri Irak, tempat Nabi Ibrahim AS dibesarkan.

Kebiasaan masyarakat yang menyembah berhala sebagai tuhan mereka tidak membuat Nabi Ibrahim AS merasa tenang.

Beliau merasa bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk kesesatan, begitu pun terhadap ayahnya.

Dan pada suatu waktu, Nabi Ibrahim AS berkata kepada ayahnya, “Pantaskah Ayah menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat Ayah dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Nabi Ibrahim terus mencari hikmah tentang Tuhan yang sesungguhnya.

Ketika malam telah gelap, beliau melihat sebuah bintang (lalu) berkata, “lnilah Tuhanku.” Namun, tatkala bintang itu tenggelam beliau berkata, “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian beliau melihat bulan terbit, beliau berkata, “Inilah Tuhanku.”

Namun, setelah bulan itu terbenam, beliau berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petuniuk kepada-Ku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, beliau berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar!” Maka, tatkala matahari itu pun juga terbenam.

Beliau berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Hingga ditunjukilah beliau oleh Allah SWT kebenaran. Lalu, beliau pun mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah SWT.

Dan beliau dibantah Oleh kaumnya. Beliau lalu berkata, “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah SWT telah memberi petunjuk kepadaku.

Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Allah menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu.

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?”

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan huijah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya.

Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mem- peroleh keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?

Maka, Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari berhala berhala itu agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang zalim.”

Dan mereka berkata lagi, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.”

Mereka lalu berkata, “(Kalau demikian) bawa ia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan!”

Ibrahim pun dibawa ke tengah-tengah mereka.

Mereka bertanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Ibrahim?”

Ibrahim menjawab, “Sebenarnya berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakan saja kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”

Mereka telah kembali kepada kesadaran.

Ibrahim lalu berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).”

Kemudian kepala mereka menjadi tertunduk (lalu berkata), “Sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.”

Ibrahim pun meniawab, “Maka, mengapa Kamu menyembah selain Allah? Berhala itu tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka, apakah kamu tidak memahami?”

Mereka berkata, “Bakar dia! Minta tolonglah dengan tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak bertindak!”

Allah SWT berfirman, “Hai api dinginlah dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

“Mereka hendak berbuat makar terbadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.”

Atas pertolongan Allah SWT, selamatlah Nabi Ibrahim AS dari api yang menyala-nyala.

Untuk menyelamatkan dirinya, lalu Ibrahim berserta istrinya, Sarah, pergi meninggakan Irak menuju Palestina.

Kemudian, Ibrahim bersama istrinya, Sarah, melanjutkan perjalanan ke Mesir. Namun, beliau dan istrinya ditangkap oleh raja-raja Haksus (‘Amaliq).

Seorang dari raja-raja itu, ada yang memiliki kebiasaan merebut istri orang lain yang cantik, lalu membunuh suaminya.

Saat itu, Ibrahim mengaku kepada mereka bahwa Sarah adalah saudara perempuannya sehingga ia tidak dibunuh, tetapi Sarah tetap diambil oleh raja tersebut.

Lalu, datanglah pertolongan Allah SWT. Pada malam harinya, sang raja bermimpi bahwa Sarah adalah istri Nabi Ibrahim AS.

Tiba-tiba, keesokan harinya, raja itu memerintahkan agar Sarah dikembalikan Oleh Ibrahim.

Mereka pun akhirnya bebas, ditambah mereka diberikan banyak hadiah sebagai tanda permintaan maaf dari sang raja, salah satunya adalah seorang budak wanita bernama Siti Hajar.

Waktu terus berjalan, Nabi Ibrahim dan Sarah tak kunjung diberi keturunan.

Usia Sarah pun semakin menua. Sarah lalu meminta agar Nabi Ibrahim AS mau menikahi Siti Hajar dengan harapan dapat memberinya kerurunan.

Akhirnya, Nabi Ibrahim AS menikahi Hajar. Tak berselang lama, Haiar pun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Tak berapa lama pula, Sarah juga mengandung dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishak.

Nabi Ibrahim AS senang bukan kepalang. Beliau mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya pada kedua anaknya.

Namun, hal ini membuat resah Sarah. la tidak Suka jika anaknya diperlakukan sama dengan anak seorang budak.

Sarah pun meminta Ibrahim untuk memindahkan Hajar dan anaknya.

Untuk menjaga keutuhan keluarganya, maka Nabi Ibrahim AS memindahkan Hajar dan Ismail.

Mereka pun mulai melakukan perjalanan untuk mencari tempat bermukim bagi Hajar dan Ismail.

Mereka akhirnya sampai di sebuah lembah tandus di wilayah Hijaz. Lalu turunlah wahyu Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk pergi menuju Mekkah.

Saat itu, Mekkah belum ada rumah. Sebagaimana yang diielaskan oleh Ath-Thabari.

Lalu, Nabi Ibrahim meninggalkan Haiar dan Ismail di tempat itu dengan sedikit perbekalan, lalu ia kembali ke Palestina untuk tinggal bersama Sarah dan Ishak.

Waktu pun terus berlalu, dan perbekalan mulai menipis. Diliputi rasa takut akan kehabisan perbekalan (air dan makanan) Hajar pun pergi untuk mencarinya.

Anaknya, Ismail, mulai menangis. Hajar lalu pergi berlari menuju bukit Shafa, ia tidak menemukan. Lalu ia berlari ke bukit Marwah, ia pun tidak menemukannya.

la terus berlari antara bukit Shafa dan Marwah sampai tuiuh kali.

Ketika ia kembali untuk melihat anaknya, ia mendapati Ismail sedang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, dan seketika itu pula memancarlah air zam-zam dari bawah tanah yang dihentaknya.

Allah SWT mengutus malaikat Jibril untuk memancarkan air zam-zam sekaligus memberi kabar bahwa Ibrahim akan menemui mereka untuk membangun Ka’bah.

Sejak saat itu, daerah tersebut menjadi tempat persinggahan para kafilah dagang yang melintas untuk mendapatkan air. Yang kemudian berubah menjadi tempat bermukim suku Jurhum, kafilah dagang yang sering singgah.

Lambat laun daerah yang tadinya tandus dan tak berpenghuni itu berubah menjadi sebuah pemukiman ramai yang terus berkembang sampai seperti sekarang ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa ketika Nabi Ibrahim datang ke Mekkah, ia mendapati Nabi Ismail sedang membetulkan panahnya di sebelah sumur zam-zam, lalu Ibrahim berkata, “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk membangun sebuah rumah untuk-Nya.”

Ismail pun berkata, “Maka laksanakanlah perintah Allah.” Kemudian Nabi Ibrahim AS berkata, “Tapi Allah memerlntahkan agar kau membantuku.”

“Aku akan membantumu, Ayah,” jawab Ismail.”

Lalu mulailah keduanya pergi untuk membangun Ka’bah.

Hajar Aswad

Hajar Aswad

Setelah fondasi Kasbah selesai dibuat oleh Nabi Ibrahim AS, lalu Ismail mulai meninggikan bangunannya sampai pada posisi rukun/sudut Kasbah.

Nabi Ibrahim kemudian memerintahkan anaknya, Ismail, untuk mencari sebuah batu yang akan diletakkan di Ka’bah sebagai tanda bagi manusia.

Ismail pun berangkat mencari batu yang dirasanya cocok untuk di letakkan di Ka’bah.

Ketika Ismail datang dengan membawa sebuah batu, Nabi Ibrahim AS merasa tidak cocok dengan batu itu, lalu beliau meminta kepada Ismail lagi untuk mencari batu lain.

Ismail pun berangkat mencari batu lain. Namun, ketika ia kembali, didapatinya Nabi Ibrahim AS sudah meletakkan sebuah batu, yang menurut sebuah riwayat bahwa batu itu diberikan oleh Malaikat Jibril. ( sumber )

Kiswah

Kiswah

Kiswah adalah kain yang digunakan untuk menutup bangunan Ka’bah.

Bentuknya persegi empat yang lebarnya 144 jengkal yang pada sisi-sisinya terdapat 12 pita emas yang masing-masing pita terdapat hiasan berbentuk utrujah dari emas dengan 50 permata seperti ruby, safir, dan emerald yang besarnya seukuran telur burung dara.

Pada Sisi kiswah diukir dengan kaligrafi yang berasal dari surat Ali Imran ayat ke-95 dan surat At-Taubah ayat ke-3 yang masing-masing merupakan ayat tentang ibadah Haji.

Orang yang pertama kali menutup Ka’bah dengan kain yang kemudian disebut kiswah adalah Abu Karb As’ad raja dari dinasti Himyariah, Yaman.